Jumat, 23 Januari 2015

Teknik Pengambilan Sampel



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Definisi
Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam  penelitian.
2.2 Syarat Sampel yang baik
Secara umum, sampel yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak mungkin karakteristik populasi. Dalam bahasa pengukuran, artinya sampel harus valid, yaitu bisa mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Kalau yang ingin diukur adalah masyarakat Sunda sedangkan yang dijadikan sampel adalah hanya orang Banten saja, maka sampel tersebut tidak valid, karena tidak mengukur sesuatu yang seharusnya diukur (orang Sunda). Sampel yang valid ditentukan oleh dua pertimbangan.
Pertama : Akurasi atau ketepatan, yaitu tingkat ketidakadaan “bias” (kekeliruan) dalam sample. Dengan kata lain makin sedikit tingkat kekeliruan yang ada dalam sampel, makin akurat sampel tersebut. Tolok ukur adanya “bias” atau kekeliruan adalah populasi.
Cooper dan Emory (1995) menyebutkan bahwa“ there is no systematic variance” yang maksudnya adalah tidak ada keragaman pengukuran yang disebabkan karena pengaruh yang diketahui atau tidak diketahui, yang menyebabkan skor cenderung mengarah pada satu titik tertentu. Sebagai contoh, jika ingin mengetahui rata-rata luas tanah suatu perumahan, lalu yang dijadikan sampel adalah rumah yang terletak di setiap sudut jalan, maka hasil atau skor yang diperoleh akan bias. Kekeliruan semacam ini bisa terjadi pada sampel yang diambil secara sistematis
Contoh  systematic variance yang banyak ditulis dalam buku-buku metode penelitian adalah jajak-pendapat (polling) yang dilakukan oleh Literary Digest (sebuah majalah yang terbit di Amerika tahun 1920-an) pada tahun 1936. (Copper & Emory, 1995, Nan lin, 1976). Mulai tahun 1920, 1924, 1928, dan tahun 1932 majalah ini berhasil memprediksi siapa yang   akan jadi presiden dari calon-calon presiden yang ada. Sampel diambil berdasarkan petunjuk dalam buku telepon dan dari daftar pemilik mobil. Namun pada tahun 1936 prediksinya salah. Berdasarkan jajak pendapat, di antara dua calon presiden (Alfred M. Landon dan Franklin D. Roosevelt), yang akan menang adalah Landon, namun meleset karena ternyata Roosevelt yang terpilih menjadi presiden Amerika.
Setelah diperiksa secara seksama, ternyata  Literary Digest  membuat kesalahan dalam menentukan sampel penelitiannya . Karena semua sampel yang diambil adalah mereka yang memiliki telepon dan mobil, akibatnya pemilih yang sebagian besar tidak memiliki telepon dan mobil (kelas rendah) tidak terwakili, padahal Rosevelt lebih banyak dipilih oleh masyarakat kelas rendah tersebut. Dari kejadian tersebut ada dua pelajaran yang diperoleh : (1), keakuratan prediktibilitas dari suatu sampel tidak selalu bisa dijamin dengan banyaknya  jumlah sampel; (2) agar sampel dapat memprediksi dengan baik populasi, sampel harus mempunyai selengkap mungkin karakteristik populasi (Nan Lin, 1976).
Kedua : Presisi. Kriteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi estimasi. Presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi kita dengan karakteristik populasi.
 Contoh : Dari 300 pegawai produksi, diambil sampel 50 orang. Setelah diukur ternyata rata-rata perhari, setiap orang menghasilkan 50 potong produk “X”. Namun berdasarkan laporan harian, pegawai bisa menghasilkan produk “X” per harinya rata-rata 58 unit. Artinya di antara laporan harian yang dihitung berdasarkan populasi dengan hasil  penelitian yang dihasilkan dari sampel, terdapat perbedaan 8 unit. Makin kecil tingkat  perbedaan di antara rata-rata populasi dengan rata-rata sampel, maka makin tinggi tingkat  presisi sampel tersebut. Belum pernah ada sampel yang bisa mewakili karakteristik populasi sepenuhnya. Oleh karena itu dalam setiap penarikan sampel senantiasa melekat keasalahan-kesalahan, yang dikenal dengan nama “sampling error” Presisi diukur oleh simpangan baku ( standard error ).
Makin kecil perbedaan di antara simpangan baku yang diperoleh dari sampel (S) dengan simpangan baku dari populasi, makin tinggi pula tingkat presisinya Walau tidak selamanya, tingkat presisi mungkin bisa meningkat dengan cara menambahkan  jumlah sampel, karena kesalahan mungkin bisa berkurang kalau jumlah sampelnya ditambah ( Kerlinger, 1973 ). Dengan contoh di atas tadi, mungkin saja perbedaan rata-rata di antara populasi dengan sampel bisa lebih sedikit, jika sampel yang ditariknya ditambah. Katakanlah dari 50 menjadi 75. Di bawah ini digambarkan hubungan antara jumlah sampel dengan tingkat kesalahan seperti yang diuarakan oleh Kerlinger



2.3 Teknik Pengambilan Sampel
2.3.1 Teknik Pengambilan Sampel Secara Acak (Random Sampling)
Syarat pertama yang harus dilakukan untuk mengambil sampel secara acak adalah memperoleh atau membuat kerangka sampel atau dikenal dengan nama
“sampling frame” . Yang dimaksud dengan kerangka sampling adalah daftar yang berisikan setiap elemen  populasi yang bisa diambil sebagai sampel. Elemen populasi bisa berupa data tentang orang/binatang, tentang kejadian, tentang tempat, atau juga tentang benda. Jika populasi  penelitian adalah mahasiswa perguruan tinggi “A”, maka peneliti harus bisa memiliki daftar semua mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi “A “ tersebut selengkap mungkin.
 Nama, NRP, jenis kelamin, alamat, usia, dan informasi lain yang berguna bagi  penelitiannya.. Dari daftar ini, peneliti akan bisa secara pasti mengetahui jumlah  populasinya (N). Jika populasinya adalah rumah tangga dalam sebuah kota, maka peneliti harus mempunyai daftar seluruh rumah tangga kota tersebut. Jika populasinya adalah wilayah Jawa Barat, maka penelti harus mepunyai peta wilayah Jawa Barat secara lengkap.
Kabupaten, Kecamatan, Desa, Kampung. Lalu setiap tempat tersebut diberi kode (angka atau simbol) yang berbeda satu sama lainnya.
Di samping  sampling frame, peneliti juga harus mempunyai alat yang bisa dijadikan  penentu sampel. Dari sekian elemen populasi, elemen mana saja yang bisa dipilih menjadi sampel?. Alat yang umumnya digunakan adalah Tabel Angka Random, kalkulator, atau undian. Pemilihan sampel secara acak bisa dilakukan melalui sistem undian jika elemen  populasinya tidak begitu banyak. Tetapi jika sudah ratusan, cara undian bisa mengganggu konsep “acak” atau “random” itu sendiri.
 Secara umum, pengambilan sampel secara acak dilakukan dengan cara :
1.Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana
Cara atau teknik ini dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung deskriptif dan  bersifat umum.
Keuntungan :
1.Ketetapan yang tinggi dan setiap unit sampel mempunyai probabilitas yang sama untuk diambil sebagai sampel
2.Sampling error dapat ditentukan secara kuantitatif

Kerugian :
1.Bila tidak terdapat daftar unit dasar (sampling frame) dan populasi yang tersebar/populasi yang sangat luas dengan prasarana jalan yang tidak menunjang  pengambilan sampel sulit dilaksanakan/ membutuhkan tenaga,waktu, biaya yang sangat besar.
Teknik Pelaksanaan : Dilakukan dengan 2 cara, tergantung besarnya populasi.
a.Populasi kecil : dengan undian (lotre)  
b.Populasi besar : dengan tabel bilangan random sampling (cara lain dengan gulungan kertas) Contoh : Misalnya, dalam populasi ada wanita dan pria, atau ada yang kaya dan yang miskin, ada manajer dan bukan manajer, dan perbedaan-perbedaan lainnya. Selama  perbedaan gender, status kemakmuran, dan kedudukan dalam organisasi, serta perbedaan- perbedaan lain tersebut bukan merupakan sesuatu hal yang penting dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil penelitian, maka peneliti dapat mengambil sampel secara acak sederhana. Dengan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Prosedurnya :
1.Susun “sampling frame”
2.Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil
3.Tentukan alat pemilihan sampel
4.Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi
2.Stratified Random Sampling (Acak Stratifikasi)
-Bila populasi dibagi menjadi beberapa strata, dimana setiap strata adalah homrgen, sedangkan antar strata terdapat sifat yang berbeda
-Bila pengambilan sampel setiap strata dilakukan dengan simple random sampling, dan dengan proporsi yang sama disebut : Proportionate stratified simple random sampling
Keuntungan :
ketetapan lebih tinggi dengan simpangan baku yang lebih kecil dibandingkan dengan simple random sampling, terutama bila pengambilan sampel dilakukan secara proporsional
Kekurangan :
a. Harus mengetahui kondisi populasi, sehingga dapat dilakukan stratifikasi dengan  baik  
b. Sulit untuk membuat kelompok yang Homogen Pengambilan sampel dengan stratifikasi mempunyai ciri  –  ciri sbb :
1.Deviasi standar lebih kecil dibandingkan dengan pengambilan sampel acak sederhana
2.Lebih efektif bila dalam distribusi populasi terdapat nilai ekstrem yang dapat dikelompokkan sendiri
3.Setiap unit punya peluang yang sama untuk diambil sebagai sampel hingga prakiraan yang dihasilkan tidak bias
Contoh : seorang peneliti ingin mengetahui sikap manajer terhadap satu kebijakan  perusahaan. Dia menduga bahwa manajer tingkat atas cenderung positif sikapnya terhadap kebijakan perusahaan tadi. Agar dapat menguji dugaannya tersebut maka sampelnya harus terdiri atas paling tidak para manajer tingkat atas, menengah, dan bawah. Dengan teknik pemilihan sampel secara random distratifikasikan, maka dia akan memperoleh manajer di ketiga tingkatan tersebut, yaitu stratum manajer atas, manajer menengah dan manajer bawah. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak. Prosedurnya :
1.Siapkan “sampling frame”
2.Bagi sampling frame tersebut berdasarkan strata yang dikehendaki
3.Tentukan jumlah sampel dalam setiap stratum
4.Pilih sampel dari setiap stratum secara acak.
Pada saat menentukan jumlah sampel dalam setiap stratum, peneliti dapat menentukan secara (a) proposional, (b) tidak proposional. Yang dimaksud dengan  proposional adalah jumlah sampel dalam setiap stratum sebanding dengan jumlah unsur populasi dalam stratum tersebut. Misalnya, untuk stratum manajer tingkat atas (I) terdapat 15 manajer, tingkat menengah ada 45 manajer (II), dan manajer tingkat  bawah (III) ada 100 manajer. Artinya jumlah seluruh manajer adalah 160. Kalau  jumlah sampel yang akan diambil seluruhnya 100 manajer, maka untuk stratum I diambil (15:160)x100 = 9 manajer, stratum II = 28 manajer, dan stratum 3 = 63 manajer. Jumlah dalam setiap stratum tidak proposional. Hal ini terjadi jika jumlah unsur atau elemen di salah satu atau beberapa stratum sangat sedikit. Misalnya saja, kalau dalam stratum manajer kelas atas (I) hanya ada 4 manajer, maka peneliti bisa mengambil semua manajer dalam stratum tersebut , dan untuk manajer tingkat menengah (II) ditambah 5, sedangkan manajer tingat bawah (III), tetap 63 orang.
3.Multistage random sampling (Acak Bertahap )
-Pelaksanaannya dilakukan dengan membagi populasi menjadi beberapa fraksi kemudian diambil sampelnya
 -Fraksi ynag dihasilkan kemudian dibagi lagi menjadi fraksi-fraksi yang lebih kecil, kemudian diambil sampelnya.
-Pembagian fraksi terus dilakukan sampai unit sampel yang diinginkan. Unit sampel  pertama disebut : Primary Sample Unit (PSU)
 -PSU dapat berupa fraksi besar / fraksi kecil
Keuntungan :
-Varians yang relatif kecil untuk biaya setiap unit
-Kontrol terhadap kesalahan tak sampling menjadi lebih baik
 -Penelitian ulang membutuhkan biaya yang relatif kecil
-Kontrol terhadap liputan penelitian lebih mudah dilakukan
Kerugian :
-a. Pada PSU besar, penggambaran terhadap populasi kurang baik
-b. Pada PSU kecil, hanya dapat dilakukan bila individu dalam populasi tidak tersebar dan transportasi mudah
4.Systematic Random Sampling (Acak Sistematik )
Pengambilan sampel acak dilakukan secara berurutan dengan interval tertentu - Besarnya interval (i) dapat ditentukan dengan membagi populasi (N) dengan jumlah yang diinginkan : I = N/n
Keuntungan :
a.Sampling frame tidak mutlak dibutuhkan  
b.Cara ini relatif mudah dan dapat dilakukan oleh petugas lapangan
c.Cara ini sangat praktis bila populasi dalam bentuk kartu
d.Membutuhkan waktu, biaya yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan simple random sampling
Kerugian :
a. Setiap unit sampel tidak mempunyai peluang yang sama untuk diambil sbagai sampel
 b. Bila terdapat kecenderungan tertentu maka cara pengambilan sampel acak sistematik menjadi kurang sesuai
5. Cluster Random Sampling (Acak Kelompok )
-Bila akan mengadakan penelitian dengan mengambila kelompok unit dasar sebagai sampel
Dapat juga dilakukan dengan membagi :
 -Populasi studi menjadi beberapa bagian (blok) sebagai cluster dan dilakukan  pengambilan sampel kelompok (cluster) tsb
Keuntungan :
Bila pengambilan sampel acak kelompok dilakukan dengan baik, akan menghasilkan ketepatan yang lebih baik dari pada pengambilan sampel acak sederhana
Kerugian : Sama dengan pengambilan acak stratifikasi, tetapi mempunyai ciri yang berbeda :
a. Pada sampel acak dengan strafikasi, individu dalam satu kelompok homogen tetapi mungkin antar kelompok berbeda  
b. Pada cluster sampling, individu dalam satu kelompok bersifat heterogen, tetapi antar kelompok tidak banyak berbeda.
6. Probability Proportionate to Size (PPS)
- Merupakan variasi dari pengambilan sampel bertingkat dengan pemilihan PSU yang dilakukan secara proporsional.
- Biasanya digunakan bersama dengan cara pengambilan sampel yang lain
a. Sangat bermanfaat bila besarnya PSU sangat bervariasi  
b. Akan menghasilkan varian yang lebih kecil dibandingkan dengan  pengambilan sampel acak sederhana serta mengurangi biaya pengumpulan data
Kerugian :
Memiliki keterwakilan terhadap populasi yang kurang baik bila besarnya PSU kurang  bervariasi
2.3.2 Teknik Pengambilan Sampel Secara Tidak Acak (Non Random Sampling)
Seperti telah diuraikan sebelumnya, jenis sampel ini tidak dipilih secara acak. Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih menjadi sampel bisa disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang sebelumnya sudah direncanakan oleh  peneliti.
1.Quota Sampling
Teknik sampel ini adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proposional, namun tidak dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja. Misalnya, di sebuah kantor terdapat pegawai laki-laki 60% dan perempuan 40% . Jika seorang peneliti ingin mewawancari 30 orang pegawai dari kedua jenis kelamin tadi maka dia harus mengambil sampel pegawai laki-laki sebanyak 18 orang sedangkan  pegawai perempuan 12 orang. Sekali lagi, teknik pengambilan ketiga puluh sampel tadi tidak dilakukan secara acak, melainkan secara kebetulan saja.


2.Accedental Sampling
Dilakukan secara subyektif oleh peneliti ditinjau dari sudut kemudahan tempat pengambilan sampel dan jumlah sampel yang akan diambil.
 - Cara ini sudah tidak dipergunakan lagi dalam bidang kedokteran, tetapi masih dipergunakan dalam bidang sosial ekonomi dan politik untuk mengetahui opini masyarakat terhadap suatu hal .
3.Purposive Sampling
Pengambilan sampel dilakukan sedemikian rupa, sehingga keterwakilannya ditentukan oleh peneliti berdasarkanpertimbangan orang-orang yang telah berpengalaman - Cara ini lebih baik dari accidental sampling dan quota sampling karena dilakukan  berdasarkan pengalaman berbagai pihak .
4. Snowball Sampling
Cara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi  penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui pandangan kaum lesbian terhadap lembaga perkawinan. Peneliti cukup mencari satu orang wanita lesbian dan kemudian melakukan wawancara. Setelah selesai, peneliti tadi minta kepada wanita lesbian tersebut untuk bisa mewawancarai teman lesbian lainnya. Setelah jumlah wanita lesbian yang berhasil diwawancarainya dirasa cukup, peneliti bisa mengentikan pencarian wanita lesbian lainnya. . Hal ini bisa juga dilakukan pada  pencandu narkotik, para gay, atau kelompok-kelompok sosial lain yang eksklusif (tertutup)

Sumber : 
http://www.academia.edu/6635482/TEKNIK_PENGAMBILAN_SAMPEL



Tidak ada komentar:

Posting Komentar