PERBAIKAN TATA LETAK PENEMPATAN BARANG DI GUDANG
PENYIMPANAN MATERIAL BERDASARKAN
CLASS BASED STORAGE POLICY
(Studi Kasus: Gudang Material PT. Filtrona Indonesia - Surabaya)
PT. Filtrona Indonesia merupakan
perusahaan multinasional yang menghasilkan
produk berupa filter rokok berdasarkan pesanan
pelanggan (job order). Banyaknya pesanan
tersebut membuat perusahaan membutuhkan
tempat penyimpanan barang yang besar, baik
untuk penyimpanan material maupun produk
jadi. PT. Filtrona Indonesia mempunyai tiga
buah gudang penyimpanan yaitu, gudang
Berbek Industri, gudang Surawangi, dan
gudang B1. Gudang Surawangi merupakan
gudang material. Gudang Surawangi mempunyai ukuran
sebesar 49x51x6 m3
dan terdiri dari enam area
penyimpanan. Masing-masing area terdapat
beberapa blok yang mempunyai ukuran dan
kapasitas penyimpanan yang berbeda. Pada saat
ini, penempatan material di gudang Surawangi
belum memperhatikan frekuensi perpindahan
barang. Material yang bersifat fast moving tidak
diletakkan dekat pintu keluar masuk sehingga
harus menempuh jarak perjalanan jauh untuk
proses penyimpanan dan pengambilannya.
Berdasarkan Gambar 1 diketahui bahwa
lokasi penempatan terdekat dari titik
input/output ditempati oleh packaging. Namun
demikian, pada Tabel 1 diketahui bahwa
frekuensi perpindahan packaging sangat kecil
jika dibandingkan dengan frekuensi
perpindahan acetate tow dan plug wrap. Tata
letak material gudang yang demikian ini
menjadi penyebab jarak perjalanan menjadi
jauh. Lokasi penempatan barang fast moving
yang tidak berada dekat dengan pintu keluar
masuk serta banyaknya pembongkaran
menyebabkan biaya operasional material
handling menjadi tinggi.
Salah satu kebijakan yang dapat digunakan
dalam mengatur tata letak penempatan material
gudang adalah class based storage. Class based
storage merupakan kebijakan penyimpanan
yang membagi menjadi tiga kelas A, B dan C
berdasarkan pada hukum Pareto dengan
memperhatikan level aktivitas storage dan
retrieval (S/R) dalam gudang, yaitu 80%
aktivitas S/R diberikan pada 20% dari item,
15% pada 30% dari item dan yang terakhir 5%
aktivitas S/R pada 50% dari item. Popularity
merupakan prinsip meletakkan item yang
memiliki accesibility terbesar di dekat titik
Input-Output (Hadiguna dan Setiawan, 2008).
Prinsip popularity digunakan karena tidak ada
korelasi antar material, yang harus
menempatkan material berdasarkan
kepentingan tertentu.
Metode penelitian
Tahapan penelitian dilakukan dengan
menghitung utilitas gudang pada layout awal,
frekuensi perpindahan, jumlah tempat
penyimpanan, jarak perpindahan dan ongkos
material handling. Setelah diketahui kondisi
pada layout awal kemudian dilakukan
perbaikan tata letak. Perbaikan dimulai dengan
mengurutkan material berdasarkan frekuensi
perpindahan dan membentuk menjadi tiga
kelas, yaitu kelas A, B dan C. Untuk melakukan
perancangan tata letak, dilakukan penentuan
luas penyimpanan kemudian membuat dua
alternatif layout sebagai perbandingan.
Analisis Hasil
Setelah dilakukan pengolahan data, kemudian dilakukan analisis terhadap hasil yang telah didapatkan yaitu tata letak penempatan barang dengan kebijakan penyimpanan class based storage. Tabel 14 merupakan perbandingan layout awal dan layout usulan.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan yang
telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Berdasarkan frekuensi perpindahan, material
dikelompokkan ke dalam tiga kelas sesuai
dengan hukum Pareto, yaitu:
a. Kelas A: Acetate Tow dan Plug Wrap
b. Kelas B: Inner Wrap dan Packaging
c. Kelas C: Triacetine, Yarn, Tela, Plastic
Dari perhitungan tersebut kemudian
dilakukan perancangan layout perbaikan
dengan membuat dua alternatif layout
berdasarkan kelas serta jumlah tempat
penyimpanan material tiap kelasnya.
2. Dari dua alternatif layout yang telah dibuat
terpilih alternatif layout B yang mampu
menurunkan jarak perpindahan 52,94% dari
2.399.688,8 meter per tahun menjadi
1.129.364,16 meter dan menurunkan
ongkos material handling sebesar 30,81%
dari Rp 66.670.217,688 menjadi Rp
46.132.329,202.
Adapun saran yang dapat diberikan adalah
sebagai berikut :
1. Dilakukan analisis yang lebih mendalam
apabila dilakukan tahap implementasi
sehingga faktor yang tidak diperhitungkan
sesuai dengan perbaikan yang dilakukan.
2. Diterapkannya Radio Frequency
Indentification (RFID) yang terhubungkan
dengan sistem database. Hal ini akan
memudahkan untuk mengidentifikasi
keberadaan barang.
3. Pada penelitian selanjutnya dapat dibuat
simulasi mengenai hasil dari perbaikan tata
letak
Daftar Pustaka
Hadiguna, Rika Ampuh & Setiawan, Heri.
(2008). Tata Letak Pabrik. Penerbit Andi.
Yogyakarta
Permendiknas. (2006). Standar Isi untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah. Depdiknas.
Jakarta.
Pujawan, I Nyoman. (2008). Ekonomi Teknik
Edisi Kedua. Guna Widya. Surabaya.
Purnomo, Hari. (2004). Perencanaan dan
Perancangan Fasilitas. Graha Ilmu.
Yogyakarta.
Tompkins, James A. & Smith, Jerry D. (1990).
The Warehouse Management Handbook.
Sumber Referensi :
Hasil Penelitian Santi Nurrisa Karonsih1), Nasir Widha Setyanto2) , Ceria Farela Mada Tantrika3) Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan MT. Haryono 167, Malang 65145, Indonesia E-mail: santinurrisakaronsih@gmail.com1) , nazzyr_lin@ub.ac.id2) , ceria_fmt@ub.ac.id3)
Hasil Penelitian Santi Nurrisa Karonsih1), Nasir Widha Setyanto2) , Ceria Farela Mada Tantrika3) Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan MT. Haryono 167, Malang 65145, Indonesia E-mail: santinurrisakaronsih@gmail.com1) , nazzyr_lin@ub.ac.id2) , ceria_fmt@ub.ac.id3)
http://jrmsi.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jrmsi/article/viewFile/40/64%20pada%2030%20Maret%202015


